BUNGA TAMAN HATIKU 10
(Tien Kumalasari
Nijah sedang memegang garpu ketika itu, dan karena terkejut, garpu itu jatuh ke atas piring, menimbulkan suara berdenting.
“Oh, mm … maaf,” dengan gugup Nijah meminta maaf, mengambil garpu dan meletakkannya di tempat yang benar.
Bibik yang mendengarnya, melongok ke arah ruang makan. Terkejut melihat Satria berdiri di sana.
“Lhoh, Tuan muda kok sudah pulang?”
“Aku mau ketemu bapak, sekalian ingin makan siang di rumah,” jawab Satria, sementara Nijah beranjak ke belakang, mengambil lauk yang sudah ditata, untuk diletakkan di meja makan.
“Tuan sama nyonya pergi ke rumah sakit, katanya tuan mau kontrol, begitu tadi kata nyonya,” terang bibik.
Satria tertawa dalam hati. Dia kan sudah tahu kalau ayahnya mau kontrol siang ini, soalnya tadi ibunya sudah mengatakannya.
“Kalau begitu aku mau makan saja. Sayur apa nih, baunya gurih bener,” katanya sambil duduk di kursi makan, matanya melihat-lihat lauk yang sudah tertata.
“Baiklah, kalau Tuan mau makan sekarang. Bibik sama Nijah sudah selesai masak.”
“Bagus kalau begitu. Sayur apa ini Bik?”
“Ini … sayur lodeh namanya. Dari keluwih dan kacang panjang serta daun so. Ini yang masak Nijah.”
“O, Nijah bisa masak juga?”
“Nijah pintar masak Tuan, menurut nyonya, masakan Nijah enak.”
“Benarkah?”
Satria mengambil nasi, lalu menyendok sayurnya. Ia mencicipinya sesendok, dan tersenyum senang. Nijah sedang duduk di kursi kecil seperti biasanya kalau melayani majikannya makan. Berdebar dan ketakutan, kalau sampai sang tuan muda mengatakan bahwa masakannya tidak enak.
“Enak, gurih,” kata Satria, yang kemudian mencomot sepotong bandeng presto goreng dibalut telur.
Nijah menghembuskan napas lega. Siapa yang tak suka kalau masakannya dibilang enak? Tapi Nijah merasa risih ketika sang tuan muda melirik ke arahnya. Nijah selalu menundukkan wajahnya, tak sekalipun berani mengangkat, karena begitu dia mengangkat wajahnya, pandangan bertemu dengan Satria dan membuatnya berdebar ketakutan. Entah mengapa, pandangan itu terasa aneh. Diam-diam Nijah berdoa, agar Satria segera menyelesaikan makannya, sehingga dia bisa beranjak dari ruangan yang tiba-tiba dirasanya menjadi sangat pengap dan menyesakkan.
“Nijah.”
Nijah terkejut, karena tiba-tiba Satria memanggilnya.
“Tolong tuangkan minum untuk aku dong.”
Nijah berdiri sambil ngedumel dalam hati. Minumnya kan sudah dituangkan di dalam gelas, dan diletakkan di sebelah piringnya tadi.
“Tuan, itu … sudah ada.” kata Nijah takut-takut.
“Tolong yang dingin dong.”
Nijah mengambil gelas lagi, lalu menuangkan air dingin dari kulkas, kedalam gelas tersebut, kemudian mendekatkannya ke samping Satria.
“Terima kasih, Nijah.”
Nijah merasa, bahwa tuan muda nya ini berlebihan. Mengapa harus mengucapkan terima kasih? Bukankah itu sudah menjadi kewajibannya? Tapi Nijah tak berani menjawabnya.
“Jah, siapakah Bowo?”
Nijah hampir terjengkang karena kaget, tak sengaja dia berpegangan pada sebuah sandaran kursi, dan kursi itu kebetulan adalah kursi di mana Satria duduk di atasnya. Satria menoleh karena bahunya tersentuh tangannya, membuat Nijah mundur ketakutan.
“Maaf, Tuan.”
“Kenapa minta maaf?”
Tadi, saya tidak sengaja memegang kursi itu.”
“Hanya memegang kursi, apa itu sebuah kesalahan?”
Nijah diam saja. Ia masih terkejut ketika Satria menyebut nama Bowo. Dari mana dia tahu nama itu?”
“Kamu belum menjawab pertanyaan aku.”
“Apa, Tuan?”
“Bowo itu siapa?”
“Itu … itu … dulu teman … teman sekolah SD saya,” jawabnya gugup.
“Oh, di mana dia sekarang?”
“Di … Jakarta.” Nijah ingin tahu dari mana Satria mengenal nama itu, tapi dia tak memiliki cukup keberanian untuk bertanya.
“Bekerja?”
“Kuliah.”
“Oo, masih kuliah?”
Nijah sudah kembali duduk di kursi kecil seperti sebelumnya. Dia mengangguk pelan, lalu kembali menundukkan wajahnya.
“Ini urap kan?” tiba-tiba Satria bertanya tentang lauk yang tersaji di hadapannya.
“Iya … Tuan.”
“Bisakah kamu mencampurkannya sedikit untuk aku? Baunya sedap.”
Nijah berdiri. Ia mengambil piring kosong, meletakkan sayur ke atasnya, dan bumbu urap yang memang disajikan tersendiri, karena tuan dan nyonya besar belum pulang. Nijah menyampurnya dengan sendok dan garpu, lalu menyodorkannya ke dekat Satria. Nijah terus menundukkan kepalanya. Masalah nama Bowo disebut masih mengganggu pikirannya. Apakah Satria mengenal Bowo, lalu Bowo menceritakan dirinya kepada Satria? Rasanya tak mungkin. Bowo tak pernah mengatakan bahwa dia mengenal keluarga Sardono.
“Mengapa kamu selalu menundukkan wajahmu?”
Nijah terkejut. Ia menangangkat wajahnya, menatap wajah majikan muda yang menurutnya sangat aneh. Tapi dia berbeda dengan istrinya yang tak pernah ramah padanya. Nijah tidak mengerti, mengapa nyonya muda yang cantik itu tidak menyukainya, sementara suaminya begitu ramah.
“Nah, begitu lebih baik.”
Nijah tersenyum tipis, lalu kembali menundukkan wajahnya.
“Heiii, apa kamu takut sama aku?”
“Tidak, tuan.”
Satria menyendok sayur urap yang sudah dicampurkan oleh Nijah. Lalu mengacungkan jempolnya.
“Ini juga sedap.”
Nijah mengangkat wajahnya.
“Itu bibik yang memasak.”
“O, pantas. Masakan bibik selalu enak. Kalian pasangan yang serasi, dua-duanya bisa masak enak.”
Nijah tak menjawab.
“Apa kamu tidak ingin tahu, dari mana aku mengenal nama Bowo?”
Nijah mengangkat wajahnya dengan cepat. Kali ini ia menatap Satria dengan berani, menunggu jawaban.
“Tidak ingin? Atau ingin?”
Tega-teganya Satria menggodanya. Sementara Nijah sudah sangat penasaran.
“Ingin tahu? Atau tidak?”
Nijah terus menatap Satria.
“Apa dia seseorang yang istimewa bagimu?”
Nijah menjadi kesal, karena Satria mengganti pertanyaannya. Yang ini lebih sulit untuk dijawab.
“Kenapa diam?”
“Hanya teman baik, yang sudah lama tidak ketemu,” akhirnya Nijah menjawab pelan.
“Pasti sangat istimewa.”
Ya ampun, kenapa tidak segera mengatakan dimana dia mengenal nama Bowo, malah macam-macam yang diucapkannya. Nijah tak menjawab.
“Tahukah kamu, dimana saya mengenal nama Bowo? Bukan orangnya, aku nggak kenal siapa itu Bowo.”
Nijah mengangkat wajahnya. Dia belum bisa menangkap arah jawaban Satria, karena Satria memang belum menjawabnya.
“Apa kamu kalau bertelpon sama dia selalu hanya setiap malam?”
Nijah terkejut. Jadi telpon itu? Dan tuan muda yang cerewet ini mendengar ketika dia bertelpon? Atau malah sengaja menguping. Ya ampun, lain kali Nijah harus berhati-hati. Ia menatap majikan muda itu dengan tatapan memprotes, dan Satria sangat mengerti arti tatapan itu. Ia tersenyum dan menatap Nijah lebih dalam.
“Aku minta maaf. Memang tadinya tidak sengaja mendengar, tapi karena penasaran, aku jadi pengin nguping. Maaf ya. Bener-bener aku minta maaf,” katanya seperti minta dikasihani.
Nijah merasa luluh, tapi dia justru ketakutan, karena ia tiba-tiba teringat saat itu ia mencela istri sang majikan muda itu, dan sudah pasti dia mendengarnya.
“Saya minta maaf, Tuan.”
“Mengapa kamu minta maaf? Tak ada yang salah dalam pembicaraan itu.”
“Tapi … saya juga … membicarakan istri Tuan,” kata Nijah lirih, dan sedikit gemetar.
Satria tertawa agak keras. Nijah menahan titik air matanya. Pasti akan ada hukuman untuk mulut bawelnya yang pakai mengadu pada Bowo tentang perlakuan Ristia kepadanya.
“Baiklah, aku kan suaminya, wajib lah, aku memberi hukuman kepada orang yang menjelek-jelekkan nama istri aku.”
“Maaf, Tuan,” kata Nijah lirih.
“Jadi aku harus menghukum kamu.”
”Maaf Tuan.”
“Namanya orang bersalah, harus mau dong menerima hukuman apapun.”
Nijah semakin menundukkan wajahnya. Ia menduga-duga, hukuman yang akan dijatuhkan padanya. Dipecat? Ya Tuhan, Nijah sudah merasa nyaman berada di keluarga Sardono. Kalau dipecat, dia akan kembali menjalani kehidupan yang kelam dan penuh rasa tertekan karena ulah ayah tirinya.
“Nijah, ke sini kamu.”
Nijah berdiri, menatap Satria dengan ragu-ragu.”
“Sini! Kok bengong.”
Nijah melangkah perlahan, mendekati Satria. Apakah Satria akan memukulnya? Hati Nijah menciut.
“Sini, lebih dekat.”
Gemetar kaki Nijah.
“Tambahkan nasi ke piring aku. Dekat sini, nanti nasinya tumpah semua.”
Nijah mengerutkan keningnya, tak percaya apa yang didengarnya.
“Cepaaat. Ini hukuman untuk kamu.”
Nijah berdiri sangat dekat dengan tubuh Satria. Aroma maskulin menyentuh hidungnya, membuatnya semakin gemetar.
Walau merasa aneh, Nijah menyendok nasi lalu ditaruh di piring Satria yang telah kosong.
“Ambilkan aku sayur lodeh, lalu urap, lalu sepotong bandeng. Oh ya, lalu kerupuk.”
Nijah hampir tak percaya akan apa yang didengarnya. Ini hukuman? Tapi memang Nijah merasa takut, dan apa yang Satria perintahkan membuat tangannya gemetar. Hukuman yang aneh. Tapi Nijah melakukan apa yang diminta Satria.
“Hm, bagus sekali. Rupanya kamu sudah pantas menjadi seorang istri,” ucap Satria seenaknya, kemudian menyendok nasi dan lauknya dengan nikmat.
Nijah mundur kebelakang, karena ia sudah selesai melakukan perintah majikan muda yang aneh itu.
“Hei, siapa menyuruh kamu pergi?”
Nijah menghentikan langkahnya.
“Tetap berdiri di tempatmu yang tadi, menunggu sampai aku selesai.”
Ya ampun, hukuman macam apa ini? Tapi memang benar membuat Nijah gemetar. Sekilas dia melihat bibik menjenguk dari pintu, lalu menghilang entah ke mana. Pasti bibik heran melihat Satria berkata-kata dan tak jelas kemana ujungnya.
Satria makan dengan nikmat, seakan tak peduli dengan dirinya yang berdiri dengan kaku tak jauh dari tempatnya berdiri. Dan yang membuat Nijah kesal, Satria menyendok makannya sangat pelan, juga mengunyahnya dengan begitu pelan.
Nijah sudah merasa panas dingin, ketika Satria menyudahi makannya.
Ia menghela napas lega, lalu mundur menjauh dari tempatnya berdiri.
“Hei, siapa menyuruh kamu pergi?”
“Buk … bukankah Tuan sudah selesai makan?”
“Aku belum minum, ambilkan.”
Nijah sedikit merasa kesal. Di sebelahnya masih ada minuman, tapi dia minta diambilkan lagi.
Nijah mengambil gelas bekas air dingin yang sudah kosong, lalu mengisinya lagi, kemudian meletakkannya di dekat Satria.
Satria meraih gelasnya, tapi tiba-tiba ia mendengar langkah-langkah kaki di ruang tengah. Nijah berdebar, jangan-jangan non Ristia.
“Satria, tumben kamu makan di rumah siang ini,” pekik ibunya yang pastinya kaget melihat Satria makan sendirian di ruang makan.
Nijah segera beranjak pergi, dan kali ini Satria membiarkannya. Pasti ia tak ingin, kedua orang tuanya menganggapnya aneh.
"Satria, tumben kamu pulang?”
Nijah mengambil piring kotor bekas makan Satria, kemudian beranjak ke belakang dengan perasaan sangat lega.
“Lho, ada Satria?” kata pak Sardono yang tiba-tiba juga masuk ke ruang makan.
“Iya Pak,” Satria mengelap mulutnya dengan tissue.
“Tumben-tumbenan kamu makan siang di rumah?” tanya ibunya yang kemudian melangkah ke wastafel untuk mencuci tangan. Rupanya ayah ibunya sudah akan bersiap untuk makan.
Pak Sardono juga segera duduk setelah mencuci tangannya.
“Bapak sudah sangat lapar.”
“Kamu belum menjawab pertanyaan ibu,” kata bu Sardono.
“Sebetulnya saya ingin segera ketemu Bapak, untuk membicarakan pertemuan dengan rekanan yang sudah bapak ajak bicara.”
“Kamu bisa menelpon, apa pembicaraan itu menemui jalan buntu?”
“Tidak, justru sebaliknya, dia sangat antusias untuk melanjutkan kerja sama diantara kita.”
“Bagus, kalau begitu.”
“Berkas-berkasnya sudah Satria bawa, untuk bapak periksa setelah makan.”
“Baiklah.”
Pak Sardono dan istrinya segera makan. Satria melirik ke arah kursi kecil tempat biasanya Nijah atau bibik duduk menunggu printah. Gadis itu tetap menundukkan kepalanya. Satria menahan senyumnya, teringat bahwa dia telah mengganggu gadis kampung itu.
***
Sore hari itu dengan sangat ajaib Satria pulang lebih awal, saat Ristia belum sampai di rumah.
Ia segera mandi dan minta pada bibik untuk menyiapkan minuman sore untuknya. Seperti kalau ada istrinya, Satria minta minumnya disajikan di ruang makan.
Ketika bibik meminta agar Nijah menyajikannya, Nijah beralasan bahwa dia baru mau mandi. Karena itulah bibik sendiri yang menyajikan kopi susu kegemaran keluarga ke hadapan Satria.
“Kok bibik?”
“Nijah baru mandi, Tuan.”
Satria diam, tak enak kalau kelihatan sekali bahwa ia ingin Nijah yang melayaninya.
“Ada ketela ungu goreng, apakah Tuan mau?” bibik menawarkan cemilan sore yang masih hangat,
“Mau, bibik yang menggorengnya?”
“Iya,” kata bibik yang kemudian beranjak ke belakang untuk menyiapkan sepiring ketela ungu goreng untuk Satria.
Satria meneguk minumannya pelan, dan mencomot sepotong ubi ungu buatan bibik, sambil tangannya mengutak atik ponsel.
Sementara itu Nijah sudah selesai mandi, ia berganti pakaian bersih, dan kali ini Nijah ingin mengenakan kerudung di kepalanya. Ia merasa tak enak dengan kepala tanpa kerudung, sementara ia sering melihat Satria menatapnya tak berkedip. Nijah merasa bersalah melupakan kesehariannya yang selalu mengenakan kerudung setiap hari. Itu dikarenakan pada suatu hari kerudungnya mengganggu ketika dia sedang mengaduk sayur. Tapi sekarang ia yakin bahwa seharusnya memang memakainya walau ada di dalam rumah. Ia memilih kerudung warna krem yang cocok dengan bajunya, lalu keluar dari kamar setelah selesai mematutnya.
Bibik terpana melihat penampilan Nijah.
“Jah, kamu semakin cantik dengan kerudung itu. Talikan ke belakang agar tidak mengganggu saat bekerja,” kata bibik.
Tiba-tiba Nijah mendengar nyonya majikan memanggilnya, kemudian Nijah bergegas untuk melangkah ke arah depan. Karena melewati ruang makan, Nijah melihat Satria masih duduk di sana, tapi Nijah mengacuhkannya. Ia terus melangkah, namun di tengah pintu ia menabrak seseorang. Rupanya Ristia sudah pulang dan sedang mencari suaminya. Kemarahannya memuncak ketika melihat Nijah menabraknya.
“Apa kamu tidak punya mata?” hardiknya.
***
besok lagi ya.
Wajah saya saat masih culun... 😅